Malam itu, ruang tamu terasa lebih dingin dari biasanya. Di atas meja, dua cangkir teh yang sudah mendingin menjadi saksi bisu dari sebuah ketegangan yang nyaris meledak. Angga berdiri di persimpangan paling kejam dalam hidupnya: di sebelah kanan ada ibunya yang terisak, dan di sebelah kiri ada Sarah, perempuan yang telah berjanji menemani sisa hidupnya.
"Kalau kamu memilih perempuan itu, anggap ibu sudah mati, Angga!" Kalimat itu meluncur seperti belati, menghujam tepat di dada Angga. Ibunya menolak restu hanya karena latar belakang keluarga Sarah yang dianggap tidak sepadan.
Di sudut ruangan, Sarah hanya bisa menunduk, meremas ujung jilbabnya menahan tangis. Angga tahu betapa tulusnya Sarah, perempuan yang selalu mendukungnya dari titik nol. Namun, ia juga tahu betapa besar pengorbanan ibunya yang membesarkannya seorang diri.
Inilah dilema berdarah yang menghancurkan jiwanya. Memilih bakti kepada orang tua berarti dia harus membunuh cinta sejatunya dan hidup dalam bayang-bayang penyesalan. Namun, melangkah maju memeluk cinta sejati bersama Sarah berarti dia harus tega menginjak-injak hati wanita yang telah melahirkannya. Setiap pilihan menuntut darah; setiap keputusan menjanjikan luka yang tak akan pernah sembuh.
Angga menarik napas dalam, mencoba meredam gemuruh di dadanya. Dia tahu, menjadi dewasa berarti berani mengambil keputusan paling pahit. Dia tidak ingin menjadi anak durhaka, tetapi dia juga menolak menjadi pria pengecut yang membiarkan pasangannya dihina. Dengan perlahan, Angga berlutut di depan ibunya, menggenggam tangan yang mulai keriput itu, sambil memberi isyarat pelan pada Sarah untuk mendekat. Pertarungan batin ini belum usai, namun Angga sadar, merajut rumah tangga baru terkadang butuh keberanian untuk menyapih ego dari masa lalu.