Di sebuah desa terpencil yang selalu berkabut di Jawa, tradisi adalah segalanya. Namun bagi Baskoro, putra mahkota keluarga terkaya di desa itu, tradisi adalah rantai. Sejak kecil, ia hidup di bawah bayang-bayang ayahnya yang otoriter, Ki Cokro, seorang pria yang mendominasi setiap aspek kehidupan—bisnis, politik desa, bahkan siapa yang boleh Baskoro nikahi.
Ketika Baskoro jatuh cinta pada Sari, seorang gadis desa sederhana yang tidak memiliki apa-apa selain senyum tulus, mimpi buruknya dimulai. Ki Cokro menolak mentah-mentah. Bagi ayahnya, Sari tidak setara dan hanya akan menodai darah murni keluarga mereka.
Suatu malam, Ki Cokro mengunci Baskoro di gudang tua di bawah tanah, tempat di mana mereka menyimpan pusaka dan—menurut rumor—sebuah rahasia gelap. Baskoro, putus asa dan marah, menemukan sebuah pintu rahasia yang tersembunyi di balik lemari kuno. Pintu itu kecil, berkarat, dan digembok dengan rantai berat, tetapi ada sesuatu yang lebih menakutkan: sebuah tulisan kuno di atasnya, “Dosa Darah.”
Di balik pintu itu, Baskoro menemukan sesuatu yang mengubah segalanya. Bukan harta, bukan pusaka, melainkan mayat-mayat kering yang terawat dengan aneh—pasangan-pasangan kekasih dari generasi sebelumnya yang telah mencoba menentang dominasi Ki Cokro. Mereka bukan dibunuh, melainkan dibiarkan mati kelaparan, perlahan-lahan, sebagai peringatan bagi siapa saja yang berani memberontak.
Niat Baskoro untuk menentang ayahnya berubah menjadi ketakutan murni. Ia menyadari dominasi ayahnya bukan sekadar ego, melainkan perjanjian berdarah. Ayahnya telah menumbalkan kebahagiaan mereka demi kekuasaan dan keabadian keluarga, dan kini giliran Baskoro yang harus memilih: tunduk pada "sumpah darah" atau menjadi bagian dari dosa turun-temurun itu.
Ketika fajar menyingsing, Baskoro berdiri di hadapan Ki Cokro. Ia tidak lagi menentang. Ia menyerah. Ia menikahi wanita pilihan ayahnya, dan Sari? Sari menghilang, menjadi korban kesekian dari dominasi yang mencengkeram. Tapi ada yang berbeda di mata Baskoro. Di sana, bukan kesedihan yang tampak, melainkan kebencian murni yang dingin—kebencian yang sama yang akan ia wariskan kepada putra pertamanya kelak, meneruskan dosa darah yang tak kunjung usai.